Rumah Musafir Ilmu

Tutorial,Skripsi,Download Materi, dll

MENGUAK DUNIA JIN - 3 (Dosa Syirik Tidak Diampuni)

dunia jin

Dosa Syirik Tidak Diampuni

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya”. QS:4/116.

Berharap dan takut kepada selain Allah Ta’ala hukumnya syirik. Itulah hakekat syirik yaitu syirik di dalam aqidah. Orang berbuat syirik dosanya tidak diampuni oleh Allah Ta’ala. Mengapa demikian? Karena tidak ada yang mempunyai kekuatan kecuali hanya Allah Ta’ala, tidak ada yang menghidupkan dan yang mematikan kecuali hanya Allah Ta’ala, maka seseorang tidak boleh menyandarkan harapannya kecuali hanya kepada Allah Ta’ala, tidak boleh memohon pertolongan maupun perlindungan kecuali hanya kepada Allah Ta’ala, tidak boleh takut terkena marabahaya, baik di dunia maupun di akhirat kecuali hanya kepada Allah Ta’ala. Apabila hal tersebut dilakukan, dalam arti  manusia takut kepada selain Allah Ta’ala, berarti orang tersebut berbuat syirik secara aqidah.

Ketika orang mendapat keberhasilan dalam kehidupan misalnya, orang berhasil menggapai keberhasilan yang dicita-citakan kemudian dia merasa bahwa keberhasilan itu hanya dihasilkan sebab ilmu pengetahuannya yang tinggi dan kemampuannya yang prima dalam berusaha, hanya karena dia telah berinfestasi yang benar dan tepat, hanya karena keahliannya dalam menghadapi segala tantangan dan rintangan, orang tersebut tidak pernah merasakan bahwa segala keberhasilan itu semata anugerah yang diturunkan kepadanya, maka berarti dia telah berbuat syirik secara aqidah karena telah mensejajarkan dirinya dengan Allah Ta’ala. Dia mengakui hak Rububiyah Allah Ta’ala sebagai hak pribadinya atau dalam arti telah mensyirikkan Allah Ta’ala dengan dirinya sendiri. Inilah hakikat syirik secara aqidah, yang berarti pula bahwa dia telah merasa menjadi Tuhan. 

Allah Ta’ala memberikan contoh dengan firman-Nya:

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo`a kepada Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) menyekutukan (Allah). QS:29/25.

Dikatakan menyekutukan Allah Ta’ala karena orang-orang yang naik kapal itu ketika diselamatkan dari badai laut yang sedang mengancam, begitu mereka sampai di darat, saat itu juga yang diingat bukan Allah Ta’ala yang menyelamatkan, tetapi angin topan yang berbelok arah, dan mereka berkata: “Untung angin itu berbelok kekanan seandainya terus kita semua pasti binasa”. Itulah hakikat syirik secara aqidah, karena saat itu mereka menyekutukan Allah Ta’ala dengan angin topan dalam dua hal, yaitu angin topan itu mampu menghidupkan dan mematikan dirinya. Padahal sebelum itu mereka tidak berdo’a kepada angin topan, tapi berdoa kepada Allah Ta’ala.

Orang-orang yang berdoa’ kepada Allah Ta’ala supaya mendapatkan rizki yang baik, kemudian ketika Allah Ta’ala mengabulkan do’anya dan dia benar-benar telah mendapatkan rizki yang baik, walau datangnya rizki itu melalui usahanya. Ketika saat itu dia hanya mengakui usahanya saja, dia punya anggapan seandainya tidak bersekolah yang tinggi dan tidak berusaha maka mana mungkin dia mendapatkan rizki yang baik itu, maka yang demikian itulah hakikat syirik di dalam aqidah. Dosa syirik tersebut tidak akan diampuni untuk selama-lamanya.

Maka syirik aqidah itu tidak hanya dilakukan dengan bepergian jauh mencari kuburan-kuburan yang keramat kemudian minta berkah kepada kuburan itu atau mencari dukun-dukun sakti yang dapat membuatkan jimat-jimat supaya hidupnya mendapatkan keselamatan dari jimat-jimat itu, akan tetapi syirik aqibah itu bahkan banyak dilakukan oleh manusia justru hanya dengan tinggal diam di rumah. Dia menganggap dirinya sebagai tuhan karena merasa bahwa ilmu pengetahuan dan usahanya telah menjadikannya sebagai orang yang sukses dan bahagia serta mulia. Seandainya orang seperti itu mempunyai kekuasaan yang kuat, boleh jadi di dunia ini dia menjadi Fir’aun yang berikutnya. 

Allah Ta’ala telah menegaskan lagi dengan firman-Nya:

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? QS:25/43.

Dikatakan menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya karena yang diutamakan dalam hidupnya hanyalah kemauan hawa nafsu belaka, bahkan di saat berdo’a kepada Allah Ta’ala pun sesungguhnya hanya dengan maksud supaya Allah Ta’ala mengabulkan kemauan hawa nafsunya itu.
Syirik itu terkadang tidak dalam kontek aqidah saja, tetapi juga dalam kontek amal dan tujuan meski yang demikan itu kadar syiriknya lebih ringan daripada syirik di dalam aqidah akan tetapi juga dapat menciderai kesucian aqidah dan mengeruhkan kejernihan tauhid serta dosanya juga tidak diampuni oleh Allah Ta’ala. Orang yang berbuat syirik amal dan syirik tujuan, berarti kehidupannya akan jauh dari perlindungan dan pertolongan Allah Ta’ala, dengan arti yang lain berarti dia telah merusak sistem penjagaan yang telah dibangun oleh Allah Ta’ala untuk dirinya.

Ada juga yang dinamakan syirik di dalam wujud atau di dalam kejadian. Seperti orang yang kesadarannya sudah dikuasai penuh oleh jin berarti saat itu jin telah berbuat syirik di dalam wujud dengan orang tersebut. Juga sebaliknya, yaitu ketika manusia sudah benar-benar menyatu dengan jin sehingga jasadnya sudah menjadi satu dengan jasad jin, maka itu juga dikatakan syirik dalam kejadian. Seperti kejadian dalam permainan “tenaga dalam”, ketika orang dipukul dari jarak jauh bisa terpental, yang terpukul itu sesungguhnya jin yang sudah berisyrok dalam tubuh manusia itu, hal tersebut bisa terjadi, karena manusia sudah syirik dalam wujud dengan jin. Buktinya, kekuatan tenaga dalam tersebut tidak bisa berreaksi kepada orang sadar.

 Allah Ta’ala telah mengabarkan keadaan orang-orang yang berbuat syirik tersebut dengan firman-Nya:

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. QS:22/31.

Dosa syirik itu tidak diampuni artinya, orang yang berbuat dosa itu akan segera mendapat balasan, di dunia dengan rusaknya sistem pertahanan yang ada dalam jasad mereka sehingga kesurupan jin misalnya, di akhirat dengan siksa neraka. Namun demikian, manakala manusia mau bertaubat di jalan Alloh, dia kembali sadar di dalam jalan yang lurus, meskipun terkadang harus menyelesaikan masa hukuman sebagai kafarot atau penebusan dosa-dosa dengan siksa dan musibah di dunia, namun dengan izin Allah Ta’ala Yang Maha Pengampun, orang yang kerusupan jin tersebut dibebaskan lagi dari cengkraman mahluk halus itu. Jika dosanya tidak terhapuskan dengan penderitaannya maka berarti selamanya jasad orang tersebut akan dikuasai oleh setan jin. Itulah sunnatullah yang sejak diciptakan-Nya, sedikitpun tidak akan ada perubahan lagi untuk selama-lamanya.

Bukan manusia dapat mengalahkan sunnah itu ketika dia berbuat syirik kemudiaan mereka tidak segera menerima ganjaran syiriknya, akan tetapi Allah Maha Pengampun mengampuni bayak hal walau yang diampuni kadang-kadang tidak sadar sehingga tetap saja berbuat syirik kepada-Nya bahkan dengan berulang-ulang. 

Allah Ta’ala mengisyaratkan yang demikian dengan firman-Nya:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ(30)وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). – Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong selain Allah. QS:42/30-31.
Lebih terperinci lagi tentang syirik dalam amal perbuatan ini ialah apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw. di dalam sebuah haditsnya:

حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : فِي قَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ ( أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ ) قَالَ كَانَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ أَسْلَمُوا وَكَانُوا يُعْبَدُونَ فَبَقِيَ الَّذِينَ كَانُوا يَعْبُدُونَ عَلَى عِبَادَتِهِمْ وَقَدْ أَسْلَمَ النَّفَرُ مِنَ الْجِنِّ

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a: Mengenai firman Allah swt:

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ

Yang artinya: Itulah mereka yang mengaku bahwa mereka mencari jalan penghubung kepada tuhannya. Siapakah di kalangan mereka yang paling dekat dengan tuhan mereka dengan katanya: Ada sekelompok jin yang telah memeluk Islam, dan sebelum ini mereka disembah oleh manusia, maka orang-orang yang menyembah itu tetap saja menyembah mereka, yaitu jin walaupun mereka itu adalah jin yang telah memeluk Islam
•    Riwayat Bukhori di dalam Kitab Tafsir Al-Qur’an hadits nomor 4345, 4346.
•    Riwayat Muslim di dalam Kitab Tafsir hadits nomor 5356.


Menyembah jin artinya memperturutkan kemauan jin untuk supaya jin dapat berisyrok (bekerja sama) dengan manusia, meski jin itu telah memeluk islam. Demikian itulah memang sifat jin, karena banyak hal yang tidak bisa didapatkan oleh jin kecuali melalui bekerja sama dengan manusia. Dan manakala seorang manusia telah bekerjasama dengan seorang jin maka seorang jin itu pasti akan menambah-nambah kesesatan belaka walaupun seorang jin itu sudah memeluk agama islam. 

Allah Ta’ala telah menegaskan dengan firman-Nya:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. QS:72/6.

Adapun syirik di dalam tujuan artinya, tujuan amal ibadah itu tidak semata untuk mengabdi kepada Allah Ta’ala. Banyak contoh yang dapat disampaikan di sini. Salah satunya beribadah sambil berdagang, apalagi ibadah itu ternyata hanya dijadikan sarana atau media untuk mengatur srategi politik organisasi. Maka betapun dia adalah seorang hamba yang telah dapat beribadah dengan ikhlas yang semestinya sedikitpun jin tidak mempunyai peluang untuk menguasai kesadarannya, akan tetapi keikhlasan hatinya itulah yang dijadikan sasaran pertama oleh syaitan jin, supaya keikhlasan itu terlebih dahulu memudar selanjutnya supaya usaha jin dapat terfasilitasi untuk melancarkan serangan fajarnya.  (malfiali, Januari 2009)
Bagikan :
+
Previous
Next Post »
1 Komentar untuk "MENGUAK DUNIA JIN - 3 (Dosa Syirik Tidak Diampuni)"

YA ....ROBB...JAUHKAN HAMBAMU DARI SYIRIK
............SYUKRON YA AKHIIII

TINGGALKAN KOMENTAR DISINI

PROVIDER HOSTING

PROVIDER HOSTING
Penyedia Layanan Hosting, Domain, Reseller Hosting Professional
 
Support By Pringsewu Host
Back To Top